Programming Fundamental 11

Menerapkan Gaya Dasar Halaman Web Menggunakan CSS

Tujuan Praktikum : Peserta mampu menerapkan perintah eksekusi bahasa pemrograman berbasis teks (CSS) untuk memformat dokumen HTML, mengendalikan tampilan visual (warna, font, layout sederhana).

Deskripsi Singkat Aktivitas : Pada praktikum ini, peserta akan membuat file CSS terpisah (external stylesheet) dan menghubungkannya ke dokumen HTML yang telah dibuat pada Modul 2. Peserta akan fokus pada penentuan selector dasar, properti warna, tipografi, dan model kotak (box model) dasar untuk menata tampilan halaman web.

Langkah-Langkah Praktikum

  1. Setup awal
    • Gunakan file index.html dari praktikum Modul 2.
    • Buat file styles.css di folder yang sama atau di sub-folder css/.
    • Hubungkan file styles.css ke index.html menggunakan tag <link> di dalam <head>.
  2. Implementasi CSS Dasar (Warna & Tipografi)
    • Terapkan gaya pada elemen <body> untuk menentukan font family dasar dan background color halaman.
    • Gunakan selector berdasarkan elemen (h1, p, a, nav) untuk:
    • Mengubah warna teks (color) dan ukuran font (font-size) pada heading.
    • Mengubah gaya tautan (<a>) seperti menghapus garis bawah (text-decoration: none) dan menentukan warna saat di-hover (:hover pseudo-class).
  3. Menerapkan Box Model Sederhana
    • Terapkan selector pada elemen semantik utama (<header>, <main>, <footer>).
    • Gunakan properti padding untuk memberikan ruang di sekitar konten di dalam elemen tersebut.
    • Gunakan properti margin untuk memberikan jarak antar elemen.
    • Tambahkan border sederhana (misalnya border: 1px solid #ccc;) pada elemen <main> atau <section> untuk memvisualisasikan model kotak.
  4. Menggunakan Kelas dan ID
    • Buat satu class selector (.container atau sejenisnya) dan terapkan style seperti max-width dan margin: 0 auto; untuk membuat konten berada di tengah halaman. Terapkan class ini pada elemen wrapper utama (misalnya di sekitar <main>).
    • Buat satu ID selector (#submit-button atau sejenisnya) dan berikan style khusus (misalnya warna latar belakang yang mencolok) pada tombol submit di form.
  5. Test Aplikasi
    • Buka file index.html di browser dan pastikan semua style (warna, font, padding, margin) telah diterapkan dengan benar.
    • Gunakan Developer Tools (Inspect Element) untuk memastikan selector CSS menargetkan elemen yang tepat.

Tools & Resource yang Dibutuhkan:

  • Browser modern (Chrome, Firefox, Edge, Safari)
  • Code editor (VS Code, Sublime Text, atau sejenisnya)
  • File index.html dari Modul 2.
  • Referensi tambahan: Modul 3 – CSS Fundamentals, bagian Selectors, Properties, dan Box Model.

Contoh Output atau Hasil Akhir: 

Hasil akhir yang diharapkan:
  • Halaman web memiliki tampilan visual yang berbeda dari default browser (warna, font, tata letak).
  • Penggunaan external stylesheet yang terhubung dengan benar.
  • Elemen-elemen penting (header, navigasi, konten) memiliki jarak dan ruang yang memadai (padding dan margin).
  • Tautan memiliki gaya interaktif saat di-hover.

Kriteria Keberhasilan / Penilaian Mandiri:

  • File styles.css dibuat dan terhubung dengan benar ke dokumen HTML.
  • Selector CSS (elemen, class, ID) digunakan secara efektif untuk menargetkan elemen HTML.
  • Properti dasar CSS seperti color, background-color, font-family, dan font-size diterapkan untuk memformat teks dan latar belakang.
  • Properti Box Model (padding, margin, border) digunakan untuk mengendalikan tata letak dan jarak antar elemen secara sederhana.

Petunjuk Troubleshooting:

  • Pastikan path file CSS di tag <link> pada HTML sudah benar.
  • Cek urutan style dan specificity jika ada style yang tidak diterapkan (gunakan Developer Tools untuk melihat style mana yang diabaikan/di-override).
  • Pastikan penulisan properti dan value CSS sudah sesuai sintaks (misalnya ada titik koma (;) di akhir setiap deklarasi).

Durasi Praktik Disarankan: 

30–45 menit.


Bayangkan Anda sedang membuka sosial media dan menekan tombol “Like” di media sosial, angka “Like” langsung bertambah tanpa perlu memuat ulang halaman.

Sekarang, mari Kita pikirkan sejenak:
  • Bagaimana halaman web e-commerce mengubah jumlah total belanja Anda ketika anda klik tombol “Tambah ke Keranjang”
  • Bagaimana halaman web bisa mengenali bahwa Anda salah memasukkan password?
  • Bagaimana sistem dapat menampilkan hasil perhitungan secara langsung tanpa menekan tombol “Enter”?
Semua interaksi itu terjadi seolah halaman web memahami tindakan Anda bukan? Dan semuanya bisa dilakukan oleh satu bahasa pemrograman, yaitu JavaScript.

Melalui modul ini, Anda akan mempelajari dasar-dasar JavaScript: mulai dari konsep variabel, tipe data, operator, fungsi built-in, event dasar, hingga mengenal bagaimana DOM manipulation bekerja. Pemahaman ini akan menjadi bekal penting bagi Anda untuk membangun aplikasi web yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga responsif sesuai dengan fiturnya.

Sebelum memulai pembelajaran, mari kita pahami terlebih dahulu capaian yang ingin diraih dalam topik ini. Berikut adalah tujuan pembelajaran yang menjadi panduan dalam proses belajar:
  • Memahami JavaScript sebagai bahasa scripting yang digunakan di browser.
  • Menggunakan variabel, operator, dan tipe data dengan tepat.
  • Memanfaatkan fungsi bawaan (built-in functions) seperti Math, String, dan Array.
  • Menangani peristiwa dasar (events) seperti alert, prompt, dan confirm.
  • Melakukan manipulasi DOM (Document Object Model) pada elemen halaman web.
  • Mengembangkan aplikasi sederhana berupa penghitung umur yang interaktif.
Dengan memahami tujuan-tujuan tersebut, Anda akan memiliki fondasi yang kuat untuk melangkah ke tahap berikutnya dalam penguasaan JavaScript, sekaligus memahami bagaimana bahasa ini menghidupkan interaktivitas di dalam sebuah halaman web.

Selamat belajar, dan bersiaplah untuk memahami bahasa yang membuat web menjadi lebih cerdas dan interaktif.

4.1 JavaScript Sebagai Bahasa Scripting di Browser

4.1.1 Apa itu JavaScript?

JavaScript adalah bahasa pemrograman yang digunakan di browser untuk membuat halaman web menjadi interaktif dan dinamis. Dengan JavaScript, halaman web dapat merespons berbagai tindakan pengguna seperti menekan tombol, mengisi formulir, atau menggerakkan kursor di atas elemen tertentu.

Sebagai contoh, ketika Anda menekan tombol “Tambah ke Keranjang” di situs e-commerce dan jumlah total belanja otomatis bertambah tanpa perlu memuat ulang halaman. Hal tersebut terjadi karena JavaScript bekerja di balik layar.

Selain itu, JavaScript juga memungkinkan pengembang untuk memanipulasi konten halaman secara langsung dan berkomunikasi dengan server tanpa harus melakukan refresh halaman. Kemampuan ini menjadikan pengalaman pengguna lebih cepat, efisien, dan interaktif.

Dalam pengembangan web, JavaScript merupakan salah satu dari tiga pilar utama selain HTML dan CSS, yang masing-masing memiliki peran berbeda namun saling melengkapi:
  • HTML (HyperText Markup Language) berfungsi untuk membangun struktur dan menentukan konten halaman.
  • CSS (Cascading Style Sheets) digunakan untuk mengatur tampilan, gaya, dan tata letak halaman.
  • JavaScript berperan dalam menambahkan interaktivitas serta mengatur perilaku halaman agar lebih hidup dan responsif terhadap pengguna.
Melalui kombinasi ketiga teknologi ini, sebuah halaman web dapat berkembang dari sekadar tampilan statis menjadi pengalaman digital yang dinamis dan menarik bagi pengguna.

4.1.2 Mengapa JavaScript Penting?

Pernahkah Anda membayangkan seperti apa tampilan sebuah website jika tidak menggunakan JavaScript? Untuk memahaminya, mari kita bandingkan dua contoh berikut dan amati perbedaannya.
  • Sebuah website yang hanya menggunakan HTML dan CSS, tanpa JavaScript.
    Anda bisa menganalisa source code nya secara lebih dalam dengan mengunjungi link berikut: source code website statis



  • Sebuah website yang dikembangkan dengan kombinasi HTML, CSS, dan JavaScript.
    Anda bisa menganalisa source code nya secara lebih dalam dengan mengunjungi link berikut: source code website interaktif



Ayo temukan perbedaannya dengan menganalisa lebih dalam source code dari masing-masing website di atas. Anda bisa mengunjungi link berikut untuk melihat dokumentasi tentang perbedaan kedua website tersebut: source code perbedaan website statis dan website interaktif

Pada website yang hanya menggunakan HTML dan CSS, halaman tersebut memang memiliki struktur dan tampilan yang rapi, namun bersifat statis. Artinya, halaman tersebut tidak dapat berinteraksi dengan pengguna. Tombol yang Anda klik tidak memberikan respons apa pun, formulir tidak dapat menampilkan pesan kesalahan, dan konten tidak bisa berubah secara dinamis.

Sebaliknya, pada website yang dikembangkan menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript. Selain memiliki struktur dan tampilan yang menarik, halaman tersebut juga responsif dan interaktif. Tombol dapat menampilkan penambahan angka ketika diklik, formulir dapat memvalidasi input secara otomatis, dan elemen halaman dapat berubah atau bergerak mengikuti tindakan pengguna, semuanya terjadi secara responsif dan interaktif.

Dari perbandingan tersebut, terlihat jelas bahwa JavaScript memberikan “kehidupan” pada halaman web. Tanpa JavaScript, sebuah website hanyalah kumpulan halaman statis yang hanya dapat menampilkan informasi. Namun dengan JavaScript, website menjadi jauh lebih menarik, interaktif, dan mampu memberikan pengalaman pengguna yang dinamis.

4.1.3 Cara Menambahkan JavaScript ke HTML

Setelah memahami peran JavaScript dalam membuat halaman web menjadi dinamis dan interaktif, langkah selanjutnya adalah mempelajari bagaimana cara menambahkan JavaScript ke dalam halaman HTML. Pemahaman ini penting karena JavaScript tidak berdiri sendiri, ia bekerja berdampingan dengan HTML sebagai struktur halaman dan CSS sebagai pengatur tampilannya.

Seorang pengembang web perlu mengetahui cara yang tepat untuk mengintegrasikan JavaScript agar kode yang dibuat tetap efisien, mudah dikelola, dan sesuai dengan kebutuhan proyek.

Dalam praktiknya, terdapat dua cara utama untuk menambahkan JavaScript ke dalam halaman HTML, yaitu melalui External JavaScript dan Internal JavaScript. Masing-masing memiliki fungsi, keunggulan, dan konteks penggunaan yang berbeda.

1. External JavaScript (Direkomendasikan)

Contoh penerapan:
    <!-- External JavaScript -->
    <script src="script.js"></script>
    

Pada metode ini, kode JavaScript disimpan di dalam file terpisah (misalnya script.js), kemudian dihubungkan ke halaman HTML melalui tag <script> dengan atribut src.

Keuntungan menggunakan External JavaScript:
  • Kode menjadi lebih terorganisir dan mudah dikelola.
  • Satu file JavaScript dapat digunakan di banyak halaman web.
  • Pemeliharaan (maintenance) kode menjadi lebih mudah karena logika terpisah dari struktur dan tampilan.
  • Browser dapat menyimpan (cache) file JavaScript, sehingga mempercepat waktu pemuatan halaman pada kunjungan berikutnya.
Metode ini merupakan praktik terbaik (best practice) yang umumnya digunakan dalam proyek web berskala menengah hingga besar.

2. Internal JavaScript

Contoh penerapan: Pada metode ini, kode JavaScript ditulis langsung di dalam file HTML, biasanya di bagian bawah elemen <body>.

<!-- Internal JavaScript -->
<script>
  console.log("Hello World!");
</script>

Metode ini cocok digunakan ketika:
  • Kode JavaScript yang digunakan sangat sederhana.
  • Kode hanya dibutuhkan di satu halaman tertentu.
  • Proses pengujian cepat (testing) atau prototyping sedang dilakukan.
Meskipun praktis, penggunaan internal JavaScript sebaiknya dibatasi agar struktur proyek tetap rapi dan mudah dikembangkan di kemudian hari.

4.1.4 Jenis-Jenis Function di JavaScript

Dalam menulis program, kita sering menemui kode yang berulang. Jika tidak dikelola, hal ini membuat kode sulit dirawat dan rawan kesalahan. Fungsi (function) membantu kita mengelompokkan logika agar lebih efisien, terstruktur, dan mudah digunakan kembali.

Mari kita lihat contoh sederhana berikut.

// Kode berulang tanpa fungsi
const sapaReza = 'Hi, Reza. Semoga harimu menyenangkan.';
const sapaUcup = 'Hi, Ucup. Semoga harimu menyenangkan.';
const sapaBambang = 'Hi, Bambang. Semoga harimu menyenangkan.';

Perhatikan bahwa kode di atas memiliki pola yang sama, hanya nama yang berbeda. Jika kita ingin mengganti kata “Hi” menjadi “Hello”, maka setiap baris harus diubah secara manual, hal ini tentu ini tidak efisien.

Dengan menggunakan fungsi, kita dapat menuliskan logika tersebut hanya satu kali dan memanggilnya berulang kali dengan parameter berbeda:

const sapa = (nama) => 'Hi, ' + nama + '. Semoga harimu menyenangkan.';
const sapaReza = sapa('Reza');
const sapaUcup = sapa('Ucup');
const sapaBambang = sapa('Bambang');

Kini, jika ingin mengganti sapaan “Hi” menjadi “Hello”, kita hanya perlu mengubah satu bagian di dalam fungsi. Semua pemanggilan fungsi akan otomatis mengikuti perubahan tersebut. Inilah kekuatan utama fungsi: membuat kode lebih ringkas, efisien, dan mudah dipelihara.

Secara sederhana, function (fungsi) adalah sebuah blok kode atau subprogram yang dapat dijalankan di bagian lain dari program. Fungsi dapat menerima input (parameter) dan mengembalikan output (return value). Apabila sebuah fungsi tidak secara eksplisit mengembalikan nilai, JavaScript secara default akan mengembalikan undefined. Perlu diingat: jika fungsi menjadi bagian dari suatu objek, maka ia disebut method.

JavaScript menyediakan beberapa cara untuk mendefinisikan fungsi. Masing-masing memiliki karakteristik dan perilaku yang sedikit berbeda. Tiga jenis utama yang paling umum digunakan adalah:

1. Function Declaration

Function Declaration dibuat menggunakan kata kunci function, diikuti dengan nama fungsi, parameter, dan blok kode yang berisi perintah yang akan dijalankan.

Keunggulan dari Function Declaration adalah sifatnya yang di-hoisting. Artinya, fungsi dapat dipanggil sebelum deklarasinya muncul dalam kode.

function apakahGenap(num) {
    return num % 2 === 0;
  }


Keterangan:
  • name: nama fungsi (wajib).
  • param: parameter atau variabel yang menampung nilai yang dikirim ke fungsi (opsional, bisa lebih dari satu, dipisahkan dengan koma).
  • statements: kumpulan perintah atau ekspresi yang dijalankan saat fungsi dipanggil.
Contoh:

function apakahGenap(num) {
    return num % 2 === 0;
  }
 
  apakahGenap(1); // false
  apakahGenap(2); // true


2. Function Expression

Berbeda dari Function Declaration, Function Expression mendefinisikan fungsi sebagai bagian dari ekspresi. Biasanya fungsi ini disimpan dalam variabel. Fungsi ini tidak di-hoisting, sehingga harus dideklarasikan sebelum dipanggil.

const name = function(param1, param2, ) {
    // statements
  };

3. Arrow Function

Arrow Function (fungsi panah) merupakan bentuk singkat dari Function Expression. Diperkenalkan di ES6, fungsi ini lebih ringkas dan tidak memiliki konteks this sendiri (berbeda dari Function Declaration).

(param1, param2) => {
    // statements
  };

Keterangan:
  • Jika hanya ada satu parameter, tanda kurung dapat dihilangkan.
  • Jika hanya ada satu ekspresi di dalam fungsi, tanda kurawal {} dan kata kunci return dapat dihilangkan.
Contoh:

const apakahGenap = (num) => num % 2 === 0;

4.1.5 Console dan Debugging

Saat menulis kode JavaScript, tidak jarang terjadi kesalahan atau hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam proses belajar maupun pengembangan web, kemampuan untuk memahami dan memperbaiki kesalahan (debugging) merupakan keterampilan yang sangat penting.

Sama halnya seperti seorang mekanik yang memeriksa mesin untuk menemukan sumber masalah, seorang pengembang web juga membutuhkan alat bantu untuk menelusuri bagaimana kode bekerja di balik layar. Di sinilah console berperan.

Console adalah alat bawaan browser yang membantu pengembang melakukan debugging dan testing terhadap kode JavaScript. Melalui console, Anda dapat menampilkan pesan, memeriksa nilai variabel, mengidentifikasi kesalahan, serta memahami alur eksekusi program secara langsung. Dengan memanfaatkannya, proses pengembangan menjadi lebih efisien karena Anda tidak perlu menebak di mana letak kesalahan terjadi.

Beberapa metode console yang umum digunakan antara lain:

// Console methods untuk debugging
console.log("Ini adalah log message"); // Informasi umum
console.error("Ini adalah error message"); // Error message
console.warn("Ini adalah warning message"); // Warning message
console.info("Ini adalah info message"); // Informasi tambahan

// Debugging dengan breakpoint
debugger; // Akan pause execution di browser dev tools

Untuk membuka Console di browser, ikuti cara berikut ini:
  • Chrome / Edge → Tekan F12, lalu pilih tab Console.
  • Firefox → Tekan F12, kemudian buka tab Console.
  • Safari (Mac) → Tekan Cmd + Option + I, lalu pilih tab Console.
Tampilannya akan seperti gambar di bawah ini

Gambar Tampilan Console di Browser

Dengan memahami cara menggunakan console, Anda tidak hanya dapat menemukan kesalahan dengan lebih cepat, tetapi juga dapat melihat bagaimana bahasa pemrograman bekerja, sehingga proses belajar JavaScript menjadi lebih mudah, terarah, dan menyenangkan.

Contoh Kasus: Debugging dan Solving Error

Kasus:
Program berikut seharusnya menghitung total harga produk, tetapi menghasilkan NaN (Not a Number).

let price = "10000";
let quantity = 3;
let total = price * quantity;


console.log("Total harga:", total);

Analisis:
Kesalahan terjadi karena price bertipe string, bukan number, sehingga operasi aritmatika tidak berjalan sesuai harapan.

Solusi:
Ubah tipe data price menjadi number dengan Number() atau parseInt().

let price = "10000";
let quantity = 3;
let total = Number(price) * quantity;
console.log("Total harga:", total); // Output: 30000

Studi Kasus / Contoh Nyata

Latar Belakang:

Sebuah perusahaan rintisan (startup) bernama ShopSmart sedang mengembangkan website e-commerce sederhana. Tim pengembang telah membuat tampilan produk dengan HTML dan CSS, sehingga halaman terlihat rapi dan menarik.

Namun, saat dilakukan uji coba, ditemukan bahwa interaksi pengguna masih terbatas. Misalnya:
  • Tombol “Tambah ke Keranjang” tidak memberikan respons apa pun.
  • Formulir pendaftaran tidak memberikan pesan kesalahan jika pengguna lupa mengisi kolom wajib.
  • Jumlah total harga tidak berubah otomatis setelah produk ditambahkan.
Tim menyadari bahwa website mereka masih bersifat statis dan membutuhkan kemampuan untuk merespons tindakan pengguna secara langsung tanpa harus me-reload halaman. Untuk itu, mereka memutuskan menambahkan JavaScript ke dalam proyek.

Situasi Proyek:

Tim pengembang sedang berdiskusi untuk menentukan bagaimana JavaScript akan membantu mereka:
  • Website mereka sudah menggunakan HTML untuk struktur halaman dan CSS untuk tampilan.
  • Mereka ingin agar halaman bisa berinteraksi dengan pengguna (misalnya, tombol berfungsi, data otomatis muncul, dan pesan kesalahan tampil).
  • Tim juga ingin memahami bagaimana JavaScript “berkomunikasi” dengan browser untuk membuat halaman terasa hidup.
Tim pengembang memiliki dua opsi untuk menambahkan JavaScript ke dalam halaman web:
  • Menggunakan Internal JavaScript, yaitu menulis kode langsung di dalam file HTML untuk pengujian cepat.
  • Menggunakan External JavaScript, yaitu membuat file script.js terpisah agar lebih terorganisir dan mudah dikelola.
Pertanyaan Studi Kasus:
  • Berdasarkan situasi di atas, apa peran JavaScript dalam membuat halaman web menjadi interaktif?
  • Mengapa tim ShopSmart tidak bisa hanya mengandalkan HTML dan CSS saja untuk membuat tombol “Tambah ke Keranjang” berfungsi?
  • Jika Anda menjadi bagian dari tim, metode mana yang lebih baik digunakan untuk menambahkan JavaScript — internal atau external? Jelaskan alasanmu.
  • Saat JavaScript sudah ditambahkan ke halaman, bagaimana cara mengetahui apakah kode tersebut berjalan dengan benar menggunakan fitur bawaan browser?
  • Bayangkan Anda sebagai pengguna ShopSmart — interaksi seperti apa yang menurutmu bisa ditambahkan dengan JavaScript agar pengalaman belanja lebih menarik?
Solusi / Jawaban Studi Kasus
  1. Peran JavaScript
    • JavaScript berfungsi untuk memberikan “kehidupan” pada halaman web — membuat elemen di halaman bisa merespons tindakan pengguna tanpa harus memuat ulang halaman.
  2. Mengapa HTML dan CSS tidak cukup
    • HTML hanya menentukan struktur, dan CSS hanya mengatur tampilan. Keduanya tidak bisa membuat tombol atau formulir merespons aksi pengguna. Untuk itu dibutuhkan JavaScript.
  3. Metode terbaik yang dapat digunakan adalah External JavaScript. External JavaScript lebih disarankan karena:
    • Kode lebih rapi dan mudah dikelola.
    • Dapat digunakan di banyak halaman sekaligus.
    • Lebih efisien untuk proyek jangka panjang.
  4. Cara mengecek kode berjalan dengan benar
    • Pengembang bisa menggunakan Console di browser.
    • Tekan F12 → pilih tab Console.
    • Jika JavaScript bekerja, akan muncul pesan atau notifikasi di sana.
    • Console juga menampilkan error jika ada kesalahan.
  5. Interaksi tambahan yang bisa dibuat:
    • Menampilkan jumlah produk di keranjang secara otomatis.
    • Menampilkan pesan “Produk berhasil ditambahkan” tanpa reload halaman.
    • Validasi formulir agar pengguna tidak salah input.
  1. Menampilkan animasi atau efek visual setelah tombol diklik.
Kesimpulan Studi Kasus

Berdasarkan studi kasus tersebut dapat kita simpulkan bahwa:
  • JavaScript sangat penting untuk membuat halaman web menjadi interaktif dan responsif.
  • HTML dan CSS saja tidak cukup untuk menciptakan pengalaman pengguna yang dinamis.
  • Menambahkan JavaScript secara external membantu proyek tetap terstruktur dan efisien.
  • Console browser menjadi alat penting bagi pengembang untuk memahami, memeriksa, dan memperbaiki logika program.
Dengan memahami konsep dasar ini, peserta akan lebih siap untuk melangkah ke tahap berikutnya: mulai menulis dan mencoba kode JavaScript sederhana.

Pertanyaan Refleksi

  1. Setelah memahami peran JavaScript dalam membuat halaman web menjadi interaktif, bagaimana menurut Anda hubungan antara HTML, CSS, dan JavaScript dalam membentuk pengalaman pengguna yang utuh?
  2. Jika Anda menjadi bagian dari tim pengembang website perusahaan, bagaimana Anda akan menentukan kapan sebaiknya menggunakan internal JavaScript dan kapan menggunakan external JavaScript?
  3. Menurut Anda, apa risiko atau tantangan yang mungkin muncul jika seluruh logika interaktivitas halaman ditulis langsung di file HTML tanpa perencanaan struktur kode yang baik?
  4. Bayangkan Anda sedang merancang halaman utama sebuah situs berita online. Fitur interaktif apa yang menurut Anda paling penting ditambahkan dengan JavaScript untuk meningkatkan kenyamanan pembaca?
  5. Dari materi yang telah Anda pelajari, bagian mana yang paling mengubah cara Anda memandang JavaScript? Hanya sebagai bahasa pemrograman, atau sebagai elemen penting yang menghubungkan pengguna dengan logika sistem?
  6. Dengan berkembangnya teknologi web (misalnya AI, Progressive Web Apps, atau WebAssembly), menurut Anda bagaimana peran JavaScript akan berkembang di masa depan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIPD Chrome Extension untuk Migrasi Data dari SIPD ke SIMDA PINK Th. Anggaran 2022

Mapping Sumber Dana di WP-SIPD

Dokumentasi Aplikasi Migrasi Aset SIMDA BMD